Jumat, 10 Juli 2020

Kesehatan Jiwa Selama Masa Pandemi Covid-19



  Pandemi Covid-19 tentu telah mengubah kehidupan kita secara keseluruhan, baik secara ilmu kesehatan dan pengetahuan, ekonomi dan sosial. Pandemi Covid-19 tidak hanya mengacam kesehatan fisik, ekonomi dan sosial saja, namun juga kesehatan jiwa dan mental setiap individu. Hal ini ditandai sejak virus corona mewabah keseluruh dunia yang menyebabkan timbulya kecemasan dan kepanikan masyarakat. Wabah covid-19 semakin meluas dan menjangkiti ratusan Negara termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, julah pasien covid-19 terus meningkat setiap harinya.
Hal ini tentu menambah kepanikan masyarakat, ditambah lagi pemerintah menganjurkan untuk melakukan physical distancing, yang menimbulkan efek emosional antara keluarga, sahabat , dan rekan kerja. Anjuran jaga jarak ini tentu mengharuskan setiap orang berada dirumah dalam melakukan kegiatan sehari-harinya seperti dala bekerja, belajar dan beribadah. Perubahan ini tentu mengharuskan setiap orang beradaptasi dengan hal ini, yang tidak cenderung mengakibatkan timbulnya stress bagi beberapa orang. Misalnya, pekerja harian yang harus bekerja diluar rumah untuk mendapatkan pendapatan harian harus terhalang karena anjuran untuk berada dirumah saja, sehingga pekerja kehilangan pendapatannya.
Selain itu, dalam hal belajar yang biasanya dilakukan di sekolah atau di kampus harus dirumahkan untuk menghindari meluasnya penyebaran wabah covid-19 ini. Maka diterapkan metode pembelajaran baru yaitu melalui kelas online. Tentu bagi siswa dan mahasiswa harus berdaptasi dengan sistem dan metode pembelajaran baru ini.
Dalam hal beribadah juga akan mengalami perubahan dimana dulunya beribadah di rumah ibadah bersama dengan Jemaah dan jemaat lainnya. Setelah adanya pandemi covid-19 ini umat beragama dianjurkan untuk beribadah dirumah saja untuk menghindari berkumpul bersama diwaktu yang lama.

Tekanan yang berlangsung selama masa pandemi

Beberapa perubahan selama wabah covid-19 ini terjadi tentu memerlukan adapatasi bagi semua orang yang tentunya tidak mudah sehingga tidak jarang mempengaruhi orang yng sehat secara fisik dan mental. Beberapa kelompk yang rentan mengalami stress psikologis selama masa pandemic adalah anak-anak, remaja, lansia dan petugas medis. Tekanan yang berlangsung selama masa pandemi ini dapat berupa gangguan:
1.  Ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat
2.  Perubahan pola tidur dan pola makan
3.  Bosan dan stress karena terus menerus berada di rumah, terutama pada anak-anak
4.  Sulit berkonsentrasi
5.  Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan
6.  Memburuknya kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi
7.  Munculnya gangguan psikosomatis yaitu keluhan  fisik yang disebabkan faktor psikis atau mental

Pihak-Pihak yang memerlukan perhatian khusus saat Pandemi Covid-19

WHO Indonesia sebagai organisasi kesehatan dunia yang berada di Indonesia juga sangat gencar mengkampanyekan kesehatan jiwa saat pandemi covid-19. Bahwa pada saat ini, kita bersama-sama harus saling membantu dan menjaga satu sama lain. Beberapa pihak yang membutuhkan perhatian khusus dalam menghadai stress dan rasa cemas selama pandemi sebagai berikut:

a.  Pasien Covid-19
Menjadi pasien covid-19 tidak hanya berdampak kepada kesehatan fisik pasien tetapi juga kesehatan jiwanya. Pasien rentan untuk mejadi cemas dan panik bahkan ada yang menyerah untuk sehat kembali. Dimulai dari saat pasien menunjukkan gejala covid-19 dan dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, pasien cenderung akan merasa dikucilkan dan mudah mengalami kecemasan. Maka pasien membutuhkan semangat dari orang-orang terdekat dan tenaga kesehatan untuk membantu pasien sembuh. Bisa dilakukan dengan cara mengajak untuk berolahraga dan memberikan vitamin dan probiotik untuk pasien.
Pasien juga harus tetap didampingi secara psikis ketika harus mengikuti prosedur test covid-19 terutama bagi pasien yang masih belum paham apapun tentang penyakit ini. Melalui kata-kata dan dorongan semangat diharapkan pasien memiliki keinginan untuk sembuh. Selama pasien berada dalam masa karantina keluarga dapat berkomunikasi melalui telepon dan video call untuk menyemangati.

b.  Keluarga Pasien Covid-19
Melihat keluarga kita sedang sakit tentu bukanlah hal yang mudah, cenderung kita sebagai keluarga yang harus menyemangati pasien berbalik putus asa. Terlebih itu, kita sebagai keluarga terdekat juga berpotensi terserang covid-19. Maka, kita harus saling menguatkan dengan mematuhi prosedur kesehatan yang berlaku dan bersama-sama anggota keluarga lainnya menjalankan isolasi mandiri demi mencegah penyebaran yang lebih lanjut.
Selain itu, keluarga yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai tidaklah mudah. Sebagian ada yang merasa putus asa dan ada juga yang kembali semangat menjalani hidup. Bersedih tentu boleh, namun semua yang terjadi adalah takdir dan kita harus menerimanya.

c.   Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan yang berjuang digaris terdepan rentan mengalami stress yang berlebih dan rasa lelah yang diakibatkan oleh pekerjaan disebabkan karena jadwal pekerjaan yang bertambah dan tidak teratur demi menyembuhkan para pasien. Terlebih resiko pekerjaan yang besar dimana berpotensi terserang covid-19 saat merawat pasien.
Untuk mengurangi beban pikiran dan rasa stress dapat dilakukan dengan membicarakan perasaan anda  dengan orang yang bisa dipercayai. Selain itu, ketua tim atas manajer di fasilitas kesehatan harus melakukan beberapa hal sebagai berikut:
  • Melakukan rotasi pekerjaan
  • Menerapkan sistem kemitraan dengan memasangkan pekerja yang kurang dengan yang lebih ahli
  • Menyediakan akses layanan psikososial untuk para staf
  • Menyediakan waktu bagi tenaga kesehatan yang tidak bisa pulang ke rumah untuk berbincang dengan keluarga melalui telepon atau video call.
d.  Korban PHK dan Pekerja harian yang kehilangan pendapatan
Korban PHK dan pekerja harian tentu mengalami tekanan dari segi ekonomi. Bahwa mereka kehilangan pendapatan untuk menafkahi keluarga. Oleh karena peraturan menjaga jarak dan penutupan beberapa usaha mengakibatkan pengusaha terpaksa memberhentikan pegawai karena tidak mampu membayar gaji. Pekerja harian yang terhalang peraturan PSBB untuk pergi bekerja akan kehilangan pendapatan. Hal ini tentu menjadi beban pikiran bagi para pekerja ini.
Oleh karena itu, bantuan sosial berupa uang dan kebutuhan pokok sangat dibutuhkan untuk menopang kembali perekonomian pekerja tersebut. Lembaga sosial dan kemanusiaan serta pemerintah gencar untuk memberikan bantuan sosial kepada pekerja dan masyarakat terdampak covid-19 ini.

e.   Para Perempuan penyintas kekerasan
Sebagai bentuk pelaksanaan anjuran pemerintah untum tetap berada di rumah menjadikan intensitas berada di rumah lebih banyak. Di tengah masalah ekonomi, tentu keharmonisan keluarga menjadi semakin berkurang. Tidak jarang terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kasus kekerasan selama masa pandemi meningkag, sehingga para perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga tentu harus mendapat perhatian yang khusus.
Beberapa penyebab terjadinya kasus kekerasan selama masa pandemi covid-19:
  •  Lebih banyak waktu berada di rumah bersama pelaku kekerasan
  • Kadar stress yang meningkat
  • Terisolasi dari jaringan dukungan sosial
  • Terbatasnya akses untuk mendapatkan pelayanan kritis
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk  membantu perempuan penyintas kekerasan selama masa pandemi:
  •  Membicarakan dengan keluarga, teman dan tetangga yang mendukung anda
  • Hubungi layanan telpon dan akses informasi online jika diperlukan
  • Mencari informasi terkait pelayanan penyintas kekerasan di daerah anda

f.    Lansia dan orang-orang dengan penyakit tertentu
Lansia dan orang orang dengan penyakit tertentu rentan tertular virus. Oleh karena itu dibutuhkan perawatan maksimal terhadap mereka. Terutama orng-orang dengan penyakit kronis seperti diabetes dan jantung. Ada beberapa cara menolong lansia dan orang-orang dengan penyakit tertentu yang tinggal bersama anda:
  • Jika merea menunjukkan gejala segera hubungi tenaga kesehatan
  •  Dukung mereka dalam menerapkan gaya hidup sehat
  • Rajin memberishkan rumah dan pastikan ada pertukaran udara yang cukup di rumah
Selain perawatan kesehatan fisik, juga perlu perawatan psikis untuk mereka agar terhindar dari rasa kesepian, kecemasan dan kepanikan. Rajin berbicara dan bercerita tentang berbagai hal yang menenangkan pikiran dapat membantu mereka merasa relax selama masa pandemi 

g.  Penyandang Disabilitas
Berdasarkan penelitian penyandang disabilitas juga rentan terhadap penularan virus covid-19 karena beberapa hal berikut :
·     Hambatan fisik dalam mengakses fasilitas kebersihan
·     Harus menyentuh banyak benda
·     Kesulitan dalam menjaga jarak fisik
·     Kesulitan dalam mengakses informasi
Penyandang disabilitas dapat mengurangi resiko terinfeksi dengan cara:
·     Menghindari keramaian
·     Bekerja di rumah
·     Melakukan disinfektan alat penunjang
·     Mengumpulkan benda-benda penting ke dalam suatu tempat.
Penyandang disabilitas sangat memerlukan bantuan kita dalam menunjang kegiatan sehari-hari mereka yang tentunya mengalami perubahan selama masa pendemi ini. Saling menguatkan dan mendengarkan cerita satu sama lain dapat menjadi solusinya

h.  Anak-anak
Menghadapi situasi saat ini tentu sangat membingungkan bagi anak-anak. Mereka yang masih kecil belum memiliki pengetahuan apapun tentang wabah dan virus. Mereka mungkin bertanya-tanya kenapa sekolah harus dirumahkan dan sulit untuk beradaptasi dengan sistem pembelajaran online. OLeh karena itu, sangat dibutuhkan penjelasan dari orang tua kepada anak mengenai pandemi covid-19 ini dengan bahasa yang mudah dipahami.
Oleh karena orang tua juga bekerja dari rumah maka, waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah juga lebih banyak, terlebih ada anak-anak yang masih belum paham bagaimana cara belajar online. Oleh karena itu, orang tua harus mendampingi anak ketika belajar.
Untuk mencegah rasa bosan karena terus berada di rumah, orang tua dapat mengatasi rasa bosan pada anak dengan mengajak bermain di rumah atau mengajak anak berkebun di halaman rumah.

Beberapa cara-cara dan tips diatas dapat kita lakukan untuk mengurangi beban pikiran dan stress selama masa pandemi. Pada intinya kita bersama-sama saling menguatkan dan mendengarkan keluh kesah sesama serta memberi solusi terbaik dalam mengatasi masa pandemi ini.

Sumber: WHO Indonesia

8 komentar:

  1. terima kasih informasinya ka!

    BalasHapus
  2. Iya bener bgt si semenjak pandemi ini semua aspek kehidupan terkena dampaknya, semua merasakan bgt dampaknya baik segi ekonomi, pendidikan, pemerintahan dll. Pada intinya kita harus saling menguatkan agar tetep bisa melewati pandemi ini. Semangat!!

    BalasHapus
  3. Setuju bgt, banyak banget sekarang orang-orang yg bener-bener gembor-gemborin berita peningkatan covid apalah tapi mengesampingkan fakta bahwa tidak semua org memiliki mental penerimaan yg sama dalam artian ada beberapa dari pembaca berita tsb yg bisa saja terkena pressure ataupun menjadi rentan stress. Padahal rasa pressure pada mental juga berpengaruh sama sistem imun:((
    Semangat terusss!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas masukannya
      Tetap saling menyemangati dan mendengarkan keluh kesah sesama.Kita pasti bisa melewati ini ^^

      Hapus
  4. Wahh setuju bgt.. Terima kasih tips nya kak :)

    BalasHapus