Sabtu, 25 Juli 2020

Mengembangkan Potensi Nagari Melalui Badan Usaha Milik Nagari (BUMNAG) di Nagari Simarasok



Berdasarkan pasal 87 UU No. 6 tahun 2014 tentang desa yang menyebutkan bahwa Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa yang disebut dengan BUMDES (ayat 1), maka Nagari Simarasok pun turun merealisasikan UU tersebut dengan pengantar berupa surat menteri Pemerintah Desa dan membentuk BUMDES yang dikenal dengan BUMNAG pada tahun 2018 tepatnya pada tanggal 3 September 2018. Pemerintah Nagari Simarasok melalui Badan Musyawarah Nagari (BAMUS) mengadakan sosialisasi dan pembentukan BUMNAG. Terbentuknya BUMNAG diharapkan akan membuka lapangan kerja sekaligus menambah pendapatan nagari. Pada rapat tersebut juga dibentuk Tim Perumus BUMNAG yang memiliki tugas membuat draft Perna, Menyusun AD-ART, mengidentifikasi dan mencari potensi daerah yang nantinya akan diangkat menjadi sebuah program BUMNAG.
Pada Bulan Januari 2019, Pemerintah Nagari Simarasok membuka rekrutmen untuk  Pengurus BUMNAG hingga terbentuklah kepengurusan sebagai berikut:
a.     Direktur Utama        : Nofrian, DT. Tan Basa
b.     Direktur Keuangan   : Romzy
c.      Direktur Administrasi   : Zulfahmi
d.     Direktur Operasional    : Ramdani Tk. Bandaro Kayo
Unit Usaha BUMNAG Simarasok
Melalui BUMNAG ini diharapkan dapat mengembangkan potensi nagari yang belum disentuh sama sekali. Salah satu potensi nagari yang paling menjanjikan adalah Wisata Nagari, dimana Nagari Simaraso memiliki potensi yang sangat besar karena Nagari Simarasok memiliki surga wisata yang masih asri dan belum pernah dibuka untuk umum. Oleh karena itu, unit usaha BUMNAG dalam pembangunan wisata nagari membuatkan unit usaha pertama BUMNAG yang itu dalam bidang wisata arum jeram.
Nagari Simarasok dilalui oleh sungai Batang Agam yang memiliki arus yang cukup deras sehingga memiliki potensi untuk wisata air seperti wisata arum jeram. Oleh karena itu, BUMNAG membangun dermaga yang bertempat di Pinsi, Jorong Koto Tuo untuk Unit Usaha Arum Jeram ini.  Pembangunan Unit Usaha Arum Jeram dimulai dengan pembelian peralatan arum jeram, pembangunan kamar bilas dan dermaga arum jeram. Sayangnya peresmian unit usaha arum jeram untuk umum harus diundur pada awal tahun 2020 karena adanya penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia dan mulai dberlakukannya PSBB disejumlah wilayah termasuk Kabupaten Agam, Sumbar.
 Peresmian unit usaha ini direncanakan akan dilaksanakan pada Bulan Agustus 2020. Unit usaha Arum jeram sebagai realisasi wisata nagari diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar tempat wisata. Selain itu, Nagari Simarasok masih memiliki banyak wisata alam yang memiliki nilai ekonomi tetapi belum dikembangkan, diharapkan dengan adanya program BUMNAG dapat membantu membangun tempat-tempat wisata alam yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
Selain unit usaha wisata nagari, dalam meningkatkan perekonomian masyarakat BUMNAG sudah memiliki program usaha potensial seperti unit usaha penggemukan sapi potong, unit usaha penyediaan sembako grosir, penyediaan tabung gas LPG 3 kg, dan pengadaan ATK dan seragam sekolah. Namun, unit usaha tersebut masih dalam tahap persiapan karena anggaran dana untuk unit usaha tersebut belum turun. Tujuan adanya unit usaha diatas yaitu agar masyarakat nagari yang memiliki usaha dagang dapat memperoleh sembako yang murah dari toko unit usaha milik BUMNAG tersebut.
Wisata Nagari Simarasok
Simarasok memiliki potensi wisata alam yang bernilai ekonomi dan belum banyak diketahui orang. Objek wisata alam yang asri dan belum dibuka untuk publik, sehingga berpotensi menjadi objek wisata alam dan dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekitar objek wisata ini. Beberapa objek wisata alam yang diharapkan dapat dikembangkan di Nagari Simarasok.
Wisata Ngalau Agam Tabik
Ngalau Agam Tabik terletak di Jorong Koto Tuo Kenagarian Simarasok. Ngalau di Nagari Simarasok ini terkenal dengan penghasil sarang wallet yang terkenal. Sejak dahulu, ngalau agam tabik menjadi tempat mencari nafkah bagi pencari sarang wallet di Simarasok. Sarang burung wallet memiliki harga yang mahal karena bermanfaat untuk kesehatan. Namun. saat ini Ngalau Agam Tabik menjadi objek wisata alam yang indah tetapi dari segi ekonomi belum dibuka sebagai objek wisata yang komersil dan menghasilkan pendapatan. Diharapkan kedepannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar apabila objek wisata ini lebih dikembangkan lagi.



Minggu, 19 Juli 2020

Meningkatkan Minat Menabung Masyarakat Nagari/ Desa ke Bank Syariah




Kemunculan Bank syariah sejak tahun 1992, yang hingga saat ini telah berusia 28 tahun terus meningkatkan perkembangan pangsa pasarnya. Ekspansi dan perkembangan bank syariah mulai membuahkan hasil ditandai dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap pangsa pasar bank syariah yang menembus 6,01% per Oktober 2019. Mencapaian ini merupakan yang tertinggi mengingat hingga September 2019 yang sebesar 5,94%. Sebenarnya, pangsa pasar ini masih tergolong rendah dibanding keseluruhan pangsa pasar perbankan di Indonesia. Oleh karena itu, OJK berharap, pertumbuhan pangsa pasar bank syariah dapat terus meningkat, sejalan dengan rencana jangk panjang OJK sebesar 20%.
Beberapa upaya dari OJK sudah dilakukan, terbaru misalnya melalui PJOK Nomor 28 tahun 2019 tentang Sinergi Perbankan Dalam Satu Kepemilikan untuk Pengembangan Perbankan Syariah. Selain itu, regulator perbankan tersebut telah menerbitkan 15 PJOK yang terkait perkembangan bank syariah. Hal ini mengingat, industri perbankan yang masih kekurangan regulasi dalam pengaturannya.
Pada dasarnya, perbankan syariah sangat berpotensi menjadi market leader dalam industri perbankan, karena penduduk Indonesia mayoritas adalah muslim. Namun, kemunculan Bank syariah tergolong baru diantara Bank-bank konvensional sehingga masyarakat sudah terbiasa menabung dan bertransaksi di Bank konvensional sebelum berdirinya bank syariah. Oleh karena itu, Bank syariah belum dapat menguasai pangsa pasar perbankan di Indonesia. Selain itu, mengenai nasabah sebagai konsumen pengguna jasa bank memiliki persepsi yang berbeda tentang Bank syariah ini. Berikut beberapa faktor rendahnya market share perbankan syariah:

  • Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank syariah karena belum adanya optimalisasi produk perbankan yang sesuai hukum syariah sehingga muncul persepsi bahwa Bank syariah tidak ada bedanya dengan bank lainnya.
  • Adanya Bank umum di Indonesia yang membentuk unit usaha syariah yang mayoritas sahamnya berasal dari bank induk, sehingga semakin menguatkan persepsi bahwa bank syariah tidak ada bedanya dengan bank lainnya.
  • Rendahnya kualitas pemahaman sumber daya insani perbankan syariah tentang pemahaman produk dan operasional perbankan syariah, sehingga operasional masih belum dikatakan sepenuhnya berdasarkan prinsip syariah.
  • Berkaitan dengan prinsip syariah, belum adanya ustadz, da’i atau pendakwah yang menjelaskan tentang hukumnya serta mempromosikan bank syariah secara meluas
  • Peran pemerintah sebagai pendukung perkembangan ekonomi syariah di Indonesia masih kurang, dapat dilihat dari regulasi Bank syariah yang masih tergolong baru dikeluarkan pada tahun 2008 pada UU No. 21 tahun 2008
  • Pelayanan yang masih kurang seperti layanan ATM, internet banking dan jaringan kantor dibanding bank konvensional sehingga tidak memberikan kemudahan kepada nasabah.
Diantara faktor diatas maka sebenarnya pokok utama dalam meningkatkan pangsa pasar Bank syariah yaitu tentang bagaimana persepsi nasabah sebagai konsumen terhadap bank syariah.
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk meningkatkan pangsa pasar/ market share bank syariah, seperti:
  • Perlu adanya gerakan berskala besar untuk mempromosikan bank syariah baik dari pendakwah dan akademisi dengan tujuan untuk meluruskan pandangan masyarakat tentang bank syariah. Disini sangat diperlukan peran ulama dan da’i untuk mengajak umat muslim untuk memahami secara mendalam tentang bank syariah sehingga masyarakat mengerti bagaimana perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional
  • Perlunya dukungan penuh pemerintah terhadap industri perbankan syariah di Indonesia mulai dari pembentukan regulasi yang mengatur perbankan secara menyeluruh, bantuan pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan operasional
  • Perbaikan kualitas Sumber daya manusia dalam industri perbankan syariah dimana SDM tentu haruslah berbeda kualifikasinya dengan SDM bank konvensional. Fakta yang terjadi adalah SDM Bank syariah diperoleh dengan cara yang singkat seperti memberikan pelatihan kepada SDM industri bank konvensional dan kemudian disalurkan ke bank syariah. Walaupun operasional harus sesuai regulasi bank syariah tetapi tentu akan ditemukan perbedaan cara kerja nantinya
  • Peningkatan pelayanan bank syariah perlu ditingkatkan untuk memberikan pelayanan yang mudah bagi nasabah dan calon nasabah. Dapat dilakukan dengan cara menyediakan lebi banyak lagi layanan ATM, internet banking, dan memperluas jaringan kantor sehingga dapat dijangkau masyarakat dengan lebih mudah.
Minat Masyarakat Nagari/Desa Menabung Ke Bank Syariah
Jika diatas kita membahas bagaimana strategi market share bank syariah secara umum dan nasional lalu bagaimana dengan masyarakat yang berada dilingkungan penduduk yang lebih kecil seperti desa. Tentu pemasaran bank syariah juga menargetkan pangsa pasar dari masyarakat desa seperti halnya BRI pada produknya Simpanan Penduduk Desa (Simpedes) yang umum diketahui banyak orang.
Secara umum masyarakat desa tidak semuanya memiliki minat untuk menabung ke bank. Oleh karena kecanggihan teknologi sekarang ini penduduk desa juga sudah bisa mengakses layanan perbankan sehingga meningkatkan minat untuk menabung. Beberapa kegiatan ekonomi atau aktivitas sehari-hari mereka membutuhkan layanan bank seperti membayar uang SPP sekolah anak, mengambil gaji, tranfer uang elektronik, dan belanja online. Selain itu, ada masyarakat  yang tidak memiliki minat menabung ke bank. Mereka dapat mengakses layanan keuangan yang sederhana seperti koperasi simpan pinjam yang pada dasarnya memiliki konsep yang sama seperti bank.
Pada hakikatnya, menabung merupakan hal yang sangat penting pada perekonomian dengan tujuan untuk berjaga-jaga dan persiapan kebutuhan masa depan. Terutama dalam perekonomian rumah tangga, tanpa harus menabung ke  bank sebenarnya setiap keluarga sudah menabung sendiri dengan menyimpan uang sendiri di rumah atau yang dikenal celengan. Namun, kadang cara menabung sendiri ini tidak memiliki kontrol dan pengawasan keuangan sehingga menabung ke bank merupakan pilihan yang tepat. Jika menabung ke bank maka pihak bank akan mengajukan penawaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat kita dan disinilah nasabah dapat memilih produk apa yang akan dipakai untuk mengontrol simpanan atau pinjamannya di bank.
Kembali kepada bank syariah yang ditujukan khusus untuk umat muslim dalam menghindari riba yang dilarang agama. Maka target nasabah berupa masyarakat desa merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Namun, memiliki beberapa kendala seperti pelayanan bank syariah masih banyak belum menyentuh masyarakat desa. Di lingkungan desa umumnya akses ke layanan bank syariah terdekat tidak ada, sehingga tidak memberikan kemudahan kepada nasabah. Kantor cabang bank syariah terdekat dengan desa cenderung tidak ada yang hanya ada kantor cabang bank konvensional, sehingga masyarakat desa memilih menabung ke bank konvensional.
Selain kendala diatas, menyinggung tentang persepsi masyarakat terhadap bank syariah yang dianggap tidak ada bedanya dengan bank konvensional juga muncul dalam masyarakat desa dimana mereka menilai bahwa bank syariah hanya sekedar title untuk menarik minat mayoritas dan strategi pemasaran bank. Padahal, bank syariah juga memiliki regulasi dan operasional tersendiri. Edukasi untuk mengubah pemahaman ini masih kurang, sehingga sangat diperlukan kerjasama semua elemen mulai dari pemerintah, akademi, ulama dan praktisi bank syariah untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang bank syariah sebelum melancarkan strategi pemasaran kepada masyarakat tersebut. Tanpa adanya langkah edukasi ini straegi pemasaran dan pelayanan yang dilakukan sedemikian rupa tidak akan membuahkan hasil jika pola pikir dan pemahaman masyarakat terhadap bank syariah masih salah. Oleh karena itu, melalui ustadz, da’i, ulama dan akademi di desa dapat membantu meluruskan pemahaman ini sehingga masyarakat kemudian memiliki minta untuk menabung ke bank syariah.


Jumat, 10 Juli 2020

Kesehatan Jiwa Selama Masa Pandemi Covid-19



  Pandemi Covid-19 tentu telah mengubah kehidupan kita secara keseluruhan, baik secara ilmu kesehatan dan pengetahuan, ekonomi dan sosial. Pandemi Covid-19 tidak hanya mengacam kesehatan fisik, ekonomi dan sosial saja, namun juga kesehatan jiwa dan mental setiap individu. Hal ini ditandai sejak virus corona mewabah keseluruh dunia yang menyebabkan timbulya kecemasan dan kepanikan masyarakat. Wabah covid-19 semakin meluas dan menjangkiti ratusan Negara termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri, julah pasien covid-19 terus meningkat setiap harinya.
Hal ini tentu menambah kepanikan masyarakat, ditambah lagi pemerintah menganjurkan untuk melakukan physical distancing, yang menimbulkan efek emosional antara keluarga, sahabat , dan rekan kerja. Anjuran jaga jarak ini tentu mengharuskan setiap orang berada dirumah dalam melakukan kegiatan sehari-harinya seperti dala bekerja, belajar dan beribadah. Perubahan ini tentu mengharuskan setiap orang beradaptasi dengan hal ini, yang tidak cenderung mengakibatkan timbulnya stress bagi beberapa orang. Misalnya, pekerja harian yang harus bekerja diluar rumah untuk mendapatkan pendapatan harian harus terhalang karena anjuran untuk berada dirumah saja, sehingga pekerja kehilangan pendapatannya.
Selain itu, dalam hal belajar yang biasanya dilakukan di sekolah atau di kampus harus dirumahkan untuk menghindari meluasnya penyebaran wabah covid-19 ini. Maka diterapkan metode pembelajaran baru yaitu melalui kelas online. Tentu bagi siswa dan mahasiswa harus berdaptasi dengan sistem dan metode pembelajaran baru ini.
Dalam hal beribadah juga akan mengalami perubahan dimana dulunya beribadah di rumah ibadah bersama dengan Jemaah dan jemaat lainnya. Setelah adanya pandemi covid-19 ini umat beragama dianjurkan untuk beribadah dirumah saja untuk menghindari berkumpul bersama diwaktu yang lama.

Tekanan yang berlangsung selama masa pandemi

Beberapa perubahan selama wabah covid-19 ini terjadi tentu memerlukan adapatasi bagi semua orang yang tentunya tidak mudah sehingga tidak jarang mempengaruhi orang yng sehat secara fisik dan mental. Beberapa kelompk yang rentan mengalami stress psikologis selama masa pandemic adalah anak-anak, remaja, lansia dan petugas medis. Tekanan yang berlangsung selama masa pandemi ini dapat berupa gangguan:
1.  Ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat
2.  Perubahan pola tidur dan pola makan
3.  Bosan dan stress karena terus menerus berada di rumah, terutama pada anak-anak
4.  Sulit berkonsentrasi
5.  Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan
6.  Memburuknya kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi
7.  Munculnya gangguan psikosomatis yaitu keluhan  fisik yang disebabkan faktor psikis atau mental

Pihak-Pihak yang memerlukan perhatian khusus saat Pandemi Covid-19

WHO Indonesia sebagai organisasi kesehatan dunia yang berada di Indonesia juga sangat gencar mengkampanyekan kesehatan jiwa saat pandemi covid-19. Bahwa pada saat ini, kita bersama-sama harus saling membantu dan menjaga satu sama lain. Beberapa pihak yang membutuhkan perhatian khusus dalam menghadai stress dan rasa cemas selama pandemi sebagai berikut:

a.  Pasien Covid-19
Menjadi pasien covid-19 tidak hanya berdampak kepada kesehatan fisik pasien tetapi juga kesehatan jiwanya. Pasien rentan untuk mejadi cemas dan panik bahkan ada yang menyerah untuk sehat kembali. Dimulai dari saat pasien menunjukkan gejala covid-19 dan dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, pasien cenderung akan merasa dikucilkan dan mudah mengalami kecemasan. Maka pasien membutuhkan semangat dari orang-orang terdekat dan tenaga kesehatan untuk membantu pasien sembuh. Bisa dilakukan dengan cara mengajak untuk berolahraga dan memberikan vitamin dan probiotik untuk pasien.
Pasien juga harus tetap didampingi secara psikis ketika harus mengikuti prosedur test covid-19 terutama bagi pasien yang masih belum paham apapun tentang penyakit ini. Melalui kata-kata dan dorongan semangat diharapkan pasien memiliki keinginan untuk sembuh. Selama pasien berada dalam masa karantina keluarga dapat berkomunikasi melalui telepon dan video call untuk menyemangati.

b.  Keluarga Pasien Covid-19
Melihat keluarga kita sedang sakit tentu bukanlah hal yang mudah, cenderung kita sebagai keluarga yang harus menyemangati pasien berbalik putus asa. Terlebih itu, kita sebagai keluarga terdekat juga berpotensi terserang covid-19. Maka, kita harus saling menguatkan dengan mematuhi prosedur kesehatan yang berlaku dan bersama-sama anggota keluarga lainnya menjalankan isolasi mandiri demi mencegah penyebaran yang lebih lanjut.
Selain itu, keluarga yang kehilangan anggota keluarga yang dicintai tidaklah mudah. Sebagian ada yang merasa putus asa dan ada juga yang kembali semangat menjalani hidup. Bersedih tentu boleh, namun semua yang terjadi adalah takdir dan kita harus menerimanya.

c.   Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan yang berjuang digaris terdepan rentan mengalami stress yang berlebih dan rasa lelah yang diakibatkan oleh pekerjaan disebabkan karena jadwal pekerjaan yang bertambah dan tidak teratur demi menyembuhkan para pasien. Terlebih resiko pekerjaan yang besar dimana berpotensi terserang covid-19 saat merawat pasien.
Untuk mengurangi beban pikiran dan rasa stress dapat dilakukan dengan membicarakan perasaan anda  dengan orang yang bisa dipercayai. Selain itu, ketua tim atas manajer di fasilitas kesehatan harus melakukan beberapa hal sebagai berikut:
  • Melakukan rotasi pekerjaan
  • Menerapkan sistem kemitraan dengan memasangkan pekerja yang kurang dengan yang lebih ahli
  • Menyediakan akses layanan psikososial untuk para staf
  • Menyediakan waktu bagi tenaga kesehatan yang tidak bisa pulang ke rumah untuk berbincang dengan keluarga melalui telepon atau video call.
d.  Korban PHK dan Pekerja harian yang kehilangan pendapatan
Korban PHK dan pekerja harian tentu mengalami tekanan dari segi ekonomi. Bahwa mereka kehilangan pendapatan untuk menafkahi keluarga. Oleh karena peraturan menjaga jarak dan penutupan beberapa usaha mengakibatkan pengusaha terpaksa memberhentikan pegawai karena tidak mampu membayar gaji. Pekerja harian yang terhalang peraturan PSBB untuk pergi bekerja akan kehilangan pendapatan. Hal ini tentu menjadi beban pikiran bagi para pekerja ini.
Oleh karena itu, bantuan sosial berupa uang dan kebutuhan pokok sangat dibutuhkan untuk menopang kembali perekonomian pekerja tersebut. Lembaga sosial dan kemanusiaan serta pemerintah gencar untuk memberikan bantuan sosial kepada pekerja dan masyarakat terdampak covid-19 ini.

e.   Para Perempuan penyintas kekerasan
Sebagai bentuk pelaksanaan anjuran pemerintah untum tetap berada di rumah menjadikan intensitas berada di rumah lebih banyak. Di tengah masalah ekonomi, tentu keharmonisan keluarga menjadi semakin berkurang. Tidak jarang terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kasus kekerasan selama masa pandemi meningkag, sehingga para perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga tentu harus mendapat perhatian yang khusus.
Beberapa penyebab terjadinya kasus kekerasan selama masa pandemi covid-19:
  •  Lebih banyak waktu berada di rumah bersama pelaku kekerasan
  • Kadar stress yang meningkat
  • Terisolasi dari jaringan dukungan sosial
  • Terbatasnya akses untuk mendapatkan pelayanan kritis
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk  membantu perempuan penyintas kekerasan selama masa pandemi:
  •  Membicarakan dengan keluarga, teman dan tetangga yang mendukung anda
  • Hubungi layanan telpon dan akses informasi online jika diperlukan
  • Mencari informasi terkait pelayanan penyintas kekerasan di daerah anda

f.    Lansia dan orang-orang dengan penyakit tertentu
Lansia dan orang orang dengan penyakit tertentu rentan tertular virus. Oleh karena itu dibutuhkan perawatan maksimal terhadap mereka. Terutama orng-orang dengan penyakit kronis seperti diabetes dan jantung. Ada beberapa cara menolong lansia dan orang-orang dengan penyakit tertentu yang tinggal bersama anda:
  • Jika merea menunjukkan gejala segera hubungi tenaga kesehatan
  •  Dukung mereka dalam menerapkan gaya hidup sehat
  • Rajin memberishkan rumah dan pastikan ada pertukaran udara yang cukup di rumah
Selain perawatan kesehatan fisik, juga perlu perawatan psikis untuk mereka agar terhindar dari rasa kesepian, kecemasan dan kepanikan. Rajin berbicara dan bercerita tentang berbagai hal yang menenangkan pikiran dapat membantu mereka merasa relax selama masa pandemi 

g.  Penyandang Disabilitas
Berdasarkan penelitian penyandang disabilitas juga rentan terhadap penularan virus covid-19 karena beberapa hal berikut :
·     Hambatan fisik dalam mengakses fasilitas kebersihan
·     Harus menyentuh banyak benda
·     Kesulitan dalam menjaga jarak fisik
·     Kesulitan dalam mengakses informasi
Penyandang disabilitas dapat mengurangi resiko terinfeksi dengan cara:
·     Menghindari keramaian
·     Bekerja di rumah
·     Melakukan disinfektan alat penunjang
·     Mengumpulkan benda-benda penting ke dalam suatu tempat.
Penyandang disabilitas sangat memerlukan bantuan kita dalam menunjang kegiatan sehari-hari mereka yang tentunya mengalami perubahan selama masa pendemi ini. Saling menguatkan dan mendengarkan cerita satu sama lain dapat menjadi solusinya

h.  Anak-anak
Menghadapi situasi saat ini tentu sangat membingungkan bagi anak-anak. Mereka yang masih kecil belum memiliki pengetahuan apapun tentang wabah dan virus. Mereka mungkin bertanya-tanya kenapa sekolah harus dirumahkan dan sulit untuk beradaptasi dengan sistem pembelajaran online. OLeh karena itu, sangat dibutuhkan penjelasan dari orang tua kepada anak mengenai pandemi covid-19 ini dengan bahasa yang mudah dipahami.
Oleh karena orang tua juga bekerja dari rumah maka, waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah juga lebih banyak, terlebih ada anak-anak yang masih belum paham bagaimana cara belajar online. Oleh karena itu, orang tua harus mendampingi anak ketika belajar.
Untuk mencegah rasa bosan karena terus berada di rumah, orang tua dapat mengatasi rasa bosan pada anak dengan mengajak bermain di rumah atau mengajak anak berkebun di halaman rumah.

Beberapa cara-cara dan tips diatas dapat kita lakukan untuk mengurangi beban pikiran dan stress selama masa pandemi. Pada intinya kita bersama-sama saling menguatkan dan mendengarkan keluh kesah sesama serta memberi solusi terbaik dalam mengatasi masa pandemi ini.

Sumber: WHO Indonesia